Sejak zaman peralihan kekuasaan dari Kongsi Dagang Belanda (VOC) ke kolonial Belanda pada abad ke-17, pasar-pasar di Batavia adalah milik para tuan tanah atau demang. Untuk memiliki pasar, mereka harus memperoleh izin penguasa.
Penyebutan pasar mengikuti nama hari, seperti Pasar Senen, Pasar Selasa, Pasar Rebo, Pasar Kamis, Pasar Jumat, Pasar Sabtu, dan Pasar Minggu. Sebab itu, lokasi jual-beli berpindah tempat sesuai hari pasaran. Penguasa tidak mau tahu banyak tentang itu, yang penting hari pasaran dikenai pajak.
Menurut Rachmat Ruchiat, penulis buku-buku sejarah Jakarta, hari pasaran itu tidak hanya menandai pelaksanaan dibukanya pasar, sampai saat ini juga menjadi nama tempat dan tetap tersohor sampai kini, seperti Pasar Senen, Pasar Rebo, dan Pasar Minggu. Sedangkan pasar Selasa, Kamis, Jumat, dan Sabtu, hilang kalah populer dengan nama lokasinya.
Dari penuturan Rachmat, pasar pertama menggunakan nama hari adalah Pasar Senen mulai beroperasi sekitar abad ke-17. Sedangkan Pasar Minggu dibuka awal abad ke-19. "Cara lain penguasa mencari uang adalah menjual lahan pada tuan tanah sekitar, sedangkan tuan tanah mengadakan hari pasaran untuk memperoleh tambahan pendapatan," kata Rachmat saat dihubungi merdeka.com, Sabtu siang pekan lalu.
Walau sudah menjadi pasar, daerah Pasar Minggu saat itu masih sepi penghuni. Apalagi lokasinya jauh dari pusat kota pemerintahan kolonial di bagian utara Batavia. Maka tidak mengherankan tanah-tanah luas itu dikuasai para demang.
Dalam penelusuran Rachmat, Pasar Minggu kala itu dikenal dengan nama Tanjung Oost Passer dan dimiliki dua pihak. Dari sumber pertama, dia mengungkapkan tanah kawasan Pasar Minggu milik keluarga Arab bermarga Al-Haddad. Luasnya mulai Pasar Minggu hingga Pancoran. Sedangkan dari sumber lain, dia menemukan Pasar Minggu adalah tanah partikelir. Ini bukan milik pemerintah tapi tanah tak bertuan peninggalan Pangeran Wiraguna yang memanjang dari Ragunan hingga Pasar Minggu.
Dari kedua sumber itu, Rachmat belum bisa memastikan pemilik kawasan Pasar Minggu saat itu. Meski dia juga menemukan masih ada beberapa keluarga Al-Haddad bermukim di Kalibata, pertengahan antara Pasar Minggu dan Pancoran.
Meski zaman sudah berubah, Pasar Minggu masih betah. Tapi bagi Rachmat, pemilik pasar tidak berubah. Pasar-pasar dimiliki oleh penguasa dan dijual kepada tuan tanah atau saat ini pengusaha untuk mengendalikan. Tugas pemerintah hanya memastikan pajak masuk dari lokasi jual beli itu.
Sumber:
http://www.merdeka.com/khas/kuasa-al-haddad-di-pasar-minggu-sedjarah-djakarta-3.html
Showing posts with label Sejarah dan Budaya. Show all posts
Showing posts with label Sejarah dan Budaya. Show all posts
Ragunan dan Mitos Pangeran Wiraguna
Konon sebutan Ragunan diambil dari nama pemilik kawasan itu, Pangeran Wiraguna. Kesultanan Banten pada abad ke-17 memberikan gelar itu kepada orang Belanda bernama Hendrik Lucaasz Cardeel, ahli bangunan yang membantu memperbaiki kesultanan pada masa itu.
Adolf Heuken, padri Katolik kelahiran Jerman, menuturkan sosok Pangeran Wiraguna saat ini masih sebatas cerita. Penulis buku tiga jilid Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta ini menerangkan sejak kedatangannya di Jakarta pada 1963 cerita itu sudah beredar. Namun ketika ditelusuri lebih lanjut, dia merasa belum mendapatkan bukti akan hal itu.
Saat ditemui di rumahnya, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, akhir Juni lalu, dia mengatakan dia belum menemukan sejarah nama Ragunan. Tidak hanya bertanya langsung ke orang-orang kampung di sekitar Ragunan, dia juga telah mencari tahu melalui berbagai literatur berbahasa Belanda, Jerman, Cina, dan Jawa yang pernah membahas Batavia hingga menjadi Jakarta.
Heuken menjelaskan dari informasi dianggap valid, Ragunan adalah kawasan masih jarang penghuni hingga 1960-an. Informasi dari sejumlah literatur dia baca menyebutkan Ragunan dulu banyak dihuni oleh banyak binatang, seperti harimau, badak, hingga buaya di rawa-rawa. Dia memprediksi itu sekitar akhir abad ke-16.
Menurut dia, cerita tentang Pangeran Wiraguna konon adalah orang kepercayaan Sultan Banten saat itu, yakni Abu Nasar Abdul Qohar dengan gelar Sultan Haji atau putra dari Sultan Ageng Tirtayasa. Wiraguna disebutkan sempat menjadi utusan Kesultanan Banten untuk berhubungan dengan pemerintah Batavia. Bahkan Wiraguna juga dikisahkan sempat masuk Islam, meski saat meninggalkan Kesultanan Banten untuk kembali ke Batavia dia kembali masuk Kristen.
Cerita itu, menurut Heuken, masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Dari hasil pelacakan sejarah nama-nama tempat di Jakarta, dia merasa belum menemukan sumber bisa dipercaya. Baik itu berupa peninggalan tertulis atau dalam bentuk lainnya. Bahkan tidak ada yang tahu lokasi makam Wiraguna. Menurut romo Jesuit ini, untuk hal-hal berbau sejarah tidak bisa disamakan dengan dongeng. Dia ingin sejarah itu memiliki bukti bisa ditelusuri dan dipelajari.
Tidak hanya sampai di situ, ketika merdeka.combertandang ke rumahnya, Heuken menunjukkan peta lawas Batavia berukuran sekitar 1x0,5 meter ditempel di atas triplek. Dia memperkirakan peta berbahasa Belanda itu dibuat sekitar dua abad lalu. Nama Ragunan tidak ada di sana. Yang ada cuma kampung-kampung kuno, seperti Manggarai, Salemba, dan Penggilingan.
Menurutnya penamaan nama tempat di Jakarta memang masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Meski begitu cerita-cerita beredar di masyarakat perlu didengarkan. "Saya sering mendengar jawaban sama dan tidak pernah detail kalau menanyakan sejarah bangunan di Jakarta, meski itu orang sekitar bangunan, kata Heuken.
Sumber:
http://www.merdeka.com/khas/ragunan-dan-mitos-pangeran-wiraguna-sedjarah-djakarta-2.html
Sejarah Kebun Binatang Ragunan
Selain sebagai nama salah satu kelurahan di Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ragunan identik dengan nama lokasi taman margasatwa atau kebun binatang. Namun, Ragunan dalam ingatan Madali Boan, 76 tahun, warga Cilandak, dulu kawasan itu adalah lahan kosong tempat warga menggembala kerbau. Bahkan sejak kecil dia tidak pernah mendengar nama Ragunan.
Menurut Madali, Kebun Binatang Ragunan dibangun di atas lahan dua dusun disatukan, yakni Kandang dan Pisangan. Sebagian besar areal taman margasatwa itu masuk wilayah kampung Pisangan. Sejak ada kebun binatang itu, maka muncul dan populerlah nama Ragunan.
Tempat penangkaran satwa ini tadinya pada 1960-an di Cikini, Jakarta Pusat. Pemindahan dari Cikini ke Ragunan berlangsung semasa Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin berkuasa. Selain karena lokasinya di tengah kota, Ali juga ingin membangun Taman Ismail Marzuki di sana sebagai tempat para seniman Jakarta yang terusir dari Pasar Senen, Jakarta Pusat.
Usulan tempat baru yang muncul adalah di pinggiran Jakarta dan pilihannya jatuh pada kampung Kandang dan Pisangan. Kedua wilayah itu sekarang masuk dalam Kecamatan Jagakarsa.
Pembebasan tanah berlangsung sedikit-sedikit. Selepas itu baru ditanami pohon-pohon yang kini menjadikan Ragunan rimbun dan adem. Ali tidak sekadar memindahkan kebun binatang dari Cikini ke Ragunan, tapi dia berambisi menjadikan taman margasatwa ini terluas di Asia.
Untuk memenuhi keinginan itu, tiap tahun penambahan lahan terus dilakukan. Perluasan dan pembebasan tanah berlangsung hingga 1975-an. "Ke barat sudah ada Kavling Polri (Kepolisian Republik Indonesia). Jadi luas kebun binatang sekitar 220 hektar setelah diperluas," kata Madali saat ditemui merdeka.com kemarin di rumahnya, Jalan Cilandak KKO nomor 5, tepat di belakang Rumah Toko Cilandak, Jakarta Selatan.
Dia lupa tahun berapa Kebun Binatang Ragunan diresmikan. Tapi sejak beroperasi, tiba-tiba kawasan itu berubah menjadi buah bibir dengan sebutan Ragunan. Kakek 40 cucu ini menuturkan wilayah itu disebut Kampung Kandang karena dulu banyak kandang, terutama kandang kerbau. Dia hafal betul hampir tiap rumah memiliki ternak kerbau. "Kalau sudah punya tiga sampai lima ekor sudah masuk orang kaya saat itu. Orang tua saya punya tujuh ekor," ujarnya dibarengi tawa panjang.
Dia juga tidak mengerti apakah Ragunan diambil dari nama Pangeran Wiraguna. Sejak kecil hingga keluar dari Sekolah Rakyat pada 1948, dia tidak pernah mendengar nama Ragunan, apalagi Pangeran Wiraguna. Sultan Abumasar Abdul Qohar dari Banten pada abad ke-17 memberikan gelar itu kepada Hendrik Lucaasz Cardeel atas jasanya membangun bendungan dan memperbaiki Istana Surasowan terbakar ketika itu.
Malah Madali mendengar nama Pangeran Wiraguna dari tulisan Abdurrahaman Wahid, yang menyebut makamnya berada di sekitar Ragunan. Selebihnya dia tidak pernah tahu. Meski begitu, saat masih kecil dia sering diajak orang tuanya menziarahi sebuah kubur sekarang masuk dalam wilayah Kebun Binatang Ragunan.
Walau saban hari besar Islam ayahnya kerap mengajak dia berziarah ke makam itu, Madali tidak tahu siapa pemilik pusara itu. Dia hanya diberitahu kalau kubur mereka datangi itu adalah makam keramat. "Masuk lewat pintu barat dan langsung ke timur hingga ujungnya, nanti akan ketemu danau. Di situ dipanggil Keramat Jaya. Apa itu disebut sebagai makam Wiraguna, saya juga tidak tahu," kata Madali menjelaskan lokasi makam.
Madali ketika muda berprofesi sebagai makelar tanah. Dia pula yang menjadi perantara antara TNI Angkatan Laut Kepolisian Republik Indonesia dengan pemilik tanah di daerah itu. Sekarang berdiri markas Korps Komando Angkatan Laut di Cilandak. Tentara membeli tanah itu pada 1958-1964.
Ragunan dan sekitarnya kian berkembang dan ramai. Sangat mungkin para pengunjung tidak tahu. Namun Madali masih ingat lokasi makam keramat di dalam Kebun Binatang Ragunan walau sudah lama ia tidak berziarah ke sana.
Sumber:
http://www.merdeka.com/khas/makam-keramat-penghuni-ragunan-sedjarah-.djakarta-1.html
Pasar Minggu dan Kenangan Pusat Buah Jakarta
Pada 1960-an sampai 1980-an adalah era Pasar Minggu sebagai sentra buah di Jakarta. Selain sebagai pusat perdagangan buah, kawasan ini dirimbuni berbagai jenis pohon buah. Tidak mengherankan bila Pasar Minggu penyuplai buah di Jakarta kala itu. Jadi tidak hanya mengandalkan pasokan dari luar daerah.
Rokib, 50 tahun, warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, menceritakan betapa buah begitu berlimpah di Pasar Minggu saat dia masih siswa sekolah dasar pada 1970-an. "Dulu Durian Tiga, Buncit, Pejaten masih lebat dengan berbagai macam buah, tapi tiap lokasi itu selalu ada yang dominan," kata Rokib kepada merdeka.com, Rabu pekan lalu.
Untuk kawasan Pejaten hingga Ragunan didominasi buah rambutan. Pepaya dan jambu menguasai Pasar Minggu. Sedangkan Jati Padang, menurut Rokib, sangat kesohor dengan durian montong. Pohon-pohon duren di sana berukuran besar dengan diameter tiga lingkaran tangan orang dewasa.
Bila musim rambutan tiba dan Rokib main ke rumah saudaranya di Pejaten, sepanjang jalan dia melihat rambutan berbuah begitu lebat. Saking banyaknya, tidak perlu memanjat untuk memetik. Apalagi saat itu, Pasar Minggu masih banyak ditempati oleh orang Betawi. "Kadang tidak perlu izin untuk metik buah," kata Rokib.
Rokib yang juga ketua Rukun Tetangga Pasar Minggu Lebak, RT 03 RW 08 Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, ini bercerita ayahnya dulu pegawai di kantor Kecamatan Pasar Minggu. Bapaknya pernah membawakan dia majalah resmi pemerintah DKI Jakarta yang memuat laporan jumlah pohon dan buah di Jakarta.
Dari bacaan itu dia baru mengetahui Pasar Minggu memiliki berbagai jenis buah dengan jumlah puluhan ribu pohon. Rokib tidak ingat pasti berapa ribu jumlah pohon pepaya, nangka, durian, sawo, atau yang ada saat itu. Tapi dia memastikan jumlah tiap satu jenis buah bisa mencapai empat puluh ribu pohon, bahkan bisa lebih.
Alhasil, Pasar Minggu kebanjiran pasokan saat musim buah. Biasanya buah-buah itu disalurkan lagi ke pasar-pasar lain di seantero Jakarta. Dia memperkirakan jumlahnya bisa ribuan kilogram kalau melihat hampir semua jenis angkutan keluar masuk mengangkut buah. Mulai dari delman, truk, hingga kereta.
Pasar Minggu juga menyediakan kebutuhan masyarakat lainnya, seperti bahan pokok, pakaian, hingga lauk pauk. Namun, tetap saja Pasar Minggu kala itu identik dengan pasar buah-buahan.
Perlahan-lahan limpahan buah itu mulai menyusut. Apalagi sejak pendatang dari luar mulai ramai datang ke Jakarta menjelang 1990-an. Lahan kebun digunakan warga untuk menanam buah mulai tergusur dijadikan permukiman dan jalan raya. Kondisi Pasar Minggu berubah, statusnya sebagai sentra buah tidak lagi seperti dulu. Meski saat ini masih ada buah-buahan, tapi kebanyakan dipasok dari luar Jakarta.
"Pasar Minggu dulu dikenal sebagai sentra buah kini hanya tinggal kata-kata,"kata Rokib sambil mendendangkan lirik lagu, "Pepaya, mangga, pisang, jambu... Dibawa dari Pasar Minggu... Di sana banyak penjualnya, di kota banyak pembelinya."
Sumber:
http://www.merdeka.com/khas/pasar-minggu-dan-kenangan-pusat-buah-jakarta-.sedjarah-djakarta-4.html
Wayang Orang Bharata Mampu Bersaing dengan Justin Bieber
"Jika kami pentas di luar negeri, antusiasme penonton tidak jauh berbeda seperti ketika Justin Bieber ke Indonesia."
Bagi masyarakat Indonesia, siapa yang kenal dengan Justin Bieber? Seorang penyanyi yang banyak diidolakan dari anak-anak hingga dewasa. Namun apakah diantara mereka ada yang mengenal Paguyuban Wayang Orang Bharata (WOB)?
Di negara luar, Paguyuban Wayang Orang Bharata sangat dinantikan kehadirannya. Bahkan masyarakat asing yang menyukai budaya Indonesia rela berbondong-bondong untuk menyaksikan setiap pertunjukan mereka meski harga tiket pun selangit.
"Jika kami pentas di luar negeri, antusiasme penonton tidak jauh berbeda seperti ketika Justin Bieber ke Indonesia, contohnya pada saat kami pentas di Jerman jumlah penonton meledak dan meminta kami untuk terus tampil," ujar Ketua Paguyuban Wayang Orang Bharata (WOB), Marsam Mulyo Atmojo belum lama ini.
Ia menambahkan sambutan meriah pun mereka dapatkan ketika pentas di 30 negara Eropa, Turki dan Australia.
Meski belum banyak yang tahu dengan paguyuban WOB, animo masyarakat Indonesia pun tak kalah tinggi. Marsam menjelaskan banyak pejabat negara dan artis yang ikut serta menjadi pemain dalam beberapa pementasan.
Menurut dia, keikutsertaan para pejabat dan artis dalam pementasan bukan semata-mata untuk menarik perhatian penonton, melainkan karena mereka memang tertarik dengan seni budaya tradisi itu, seperti mantan gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengaku tertarik dan senang akan seni wayang sejak kecil.
Harga tiket pementasan wayang orang yang berdiri sejak 5 Juli 1927 itu juga bisa mencapai jutaan rupiah, seperti pada pementasan yang akan digelar pada Agustus mendatang.
"Harga tiket kami juga tidak jauh berbeda dengan harga tiket Justin Bieber, yaitu paling tinggi Rp1,5 juta ," kata Marsam.
Menurut pemaparan Marsam, Wayang Orang Bharata bersama Yayasan Mitra Bharata pernah mengantongi keuntungan sebesar Rp1 miliar. Namun demikian penjualan tiket untuk pementasan di dalam Bharata tidak untuk menggaji pemain, tetapi untuk biaya produksi kecuali jika pementasan dilakukan di luar gedung Bharata.
Source:
http://www.beritasatu.com/hiburan/48499-wayang-orang-bharata-mampu-bersaing-dengan-justin-bieber.html
Bagi masyarakat Indonesia, siapa yang kenal dengan Justin Bieber? Seorang penyanyi yang banyak diidolakan dari anak-anak hingga dewasa. Namun apakah diantara mereka ada yang mengenal Paguyuban Wayang Orang Bharata (WOB)?
Di negara luar, Paguyuban Wayang Orang Bharata sangat dinantikan kehadirannya. Bahkan masyarakat asing yang menyukai budaya Indonesia rela berbondong-bondong untuk menyaksikan setiap pertunjukan mereka meski harga tiket pun selangit.
"Jika kami pentas di luar negeri, antusiasme penonton tidak jauh berbeda seperti ketika Justin Bieber ke Indonesia, contohnya pada saat kami pentas di Jerman jumlah penonton meledak dan meminta kami untuk terus tampil," ujar Ketua Paguyuban Wayang Orang Bharata (WOB), Marsam Mulyo Atmojo belum lama ini.
Ia menambahkan sambutan meriah pun mereka dapatkan ketika pentas di 30 negara Eropa, Turki dan Australia.
Meski belum banyak yang tahu dengan paguyuban WOB, animo masyarakat Indonesia pun tak kalah tinggi. Marsam menjelaskan banyak pejabat negara dan artis yang ikut serta menjadi pemain dalam beberapa pementasan.
Menurut dia, keikutsertaan para pejabat dan artis dalam pementasan bukan semata-mata untuk menarik perhatian penonton, melainkan karena mereka memang tertarik dengan seni budaya tradisi itu, seperti mantan gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengaku tertarik dan senang akan seni wayang sejak kecil.
Harga tiket pementasan wayang orang yang berdiri sejak 5 Juli 1927 itu juga bisa mencapai jutaan rupiah, seperti pada pementasan yang akan digelar pada Agustus mendatang.
"Harga tiket kami juga tidak jauh berbeda dengan harga tiket Justin Bieber, yaitu paling tinggi Rp1,5 juta ," kata Marsam.
Menurut pemaparan Marsam, Wayang Orang Bharata bersama Yayasan Mitra Bharata pernah mengantongi keuntungan sebesar Rp1 miliar. Namun demikian penjualan tiket untuk pementasan di dalam Bharata tidak untuk menggaji pemain, tetapi untuk biaya produksi kecuali jika pementasan dilakukan di luar gedung Bharata.
Source:
http://www.beritasatu.com/hiburan/48499-wayang-orang-bharata-mampu-bersaing-dengan-justin-bieber.html
Jakarta: Sekilas Sejarah dan Budayanya...
Tentang Jakarta
Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.
Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.
Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.
- Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa
sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.
- 22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).
- 4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia.
- 1 April 1905 berubah nama menjadi 'Gemeente Batavia'.
- 8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
- 8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.
- September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.
- 20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.
- 24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj'a Jakarta.
- 18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Djakarta Raya.
- Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.
- 31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.
- Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi daerah khusus ibukota negara republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi pemerintah provinsi dki Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat provinsi dan bukan pada wilyah kota, selain itu wiolyah dki Jakarta dibagi menjadi 6 ( 5 wilayah kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu)
- Undang-undang Nomor 29 tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700)
Gelanggang Olahraga Bung Karno
Gelanggang Olahraga (Gelora) Bung Karno adalah sebuah kompleks olahraga serbaguna di Senayan, Jakarta, Indonesia. Kompleks olahraga ini dinamai untuk menghormati Soekarno, Presiden pertama Indonesia, yang juga merupakan tokoh yang mencetuskan gagasan pembangunan kompleks olahraga ini. Dalam rangka de-Soekarnoisasi, pada masa Orde Baru, nama kompleks olahraga ini diubah menjadi Gelora Senayan. Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama kompleks olahraga ini dikembalikan kepada namanya semula melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001.
Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.
Latar belakang
Selain sebagai tempat berolahraga, kawasan Gelora Bung Karno oleh berbagai kelompok masyarakat sering dimanfaatkan sebagai ajang temu. Selain itu pada awal tujuan dibangunnya stadion ini, Presiden Soekarno juga menginginkan kompleks olahraga yang dibangun untuk Asian Games IV 1962 ini juga hendaknya dijadikan sebagai paru-paru kota dan ruang terbuka tempat warga berkumpul.
Fase pembangunan
Sebelum Asian Games 1962
- 8 Februari 1960 - Presiden Soekarno menancapkan tiang pancang Stadion Utama sebagai pencanangan pembangunan kompleks Asian Games IV disaksikan wakil perdana menteri Uni Soviet, Anastas Mikoyan.
- Juni 1961 - Stadion Renang berkapasitas 8.000 penonton selesai dibangun. Bangunan ini terdiri dari kolam tanding 50 meter, kolam loncat indah, kolam pemandian dan kolam anak. Bagunan ini direnovasi ulang pada tahun 1988.
- 25 Desember 1961 - Stadion Tenis berkapasitas 5.200 penonton selesai dibangun.
- Desember 1961 - Stadion Madya (sebelumnya disebut Small Training Football Field (STTF)) berkapasitas 20.000 penonton selesai dibangun. Berdiri di areal seluas 1.75 hektar dengan sumbu panjang 176.1 meter, sumbu pendek 124.2 meter dan dilengkapi dengan 2 tribun; tribun barat dengan kapasitas 8.000 penonton dan tribun timur dengan kapasitas 12.000 penonton. Bagunan ini direnovasi ulang pada tahun 1987.
- 21 Mei 1962 - Istana Olahraga berkapasitas 10.000 penonton selesai dibangun dan untuk pertama kalinya digunakan untuk penyelenggaraan kejuaraan dunia bulutangkis beregu putra memperebutkan Piala Thomas.
- Juni 1962 - Gedung Bola Basket berkapasitas 3.500 penonton selesai dibangun.
- 21 Juli 1962 - Stadion Utama berkapasitas 100.000 penonton selesai dibangun. Ciri khas bangunan ini adalah atap temu gelang berbentuk oval. Sumbu panjang bangunan (utara-selatan) sepanjang 354 meter; sumbu pendek (timur-barat) sepanjang 325 meter. Stadion ini dikelilingi oleh jalan lngkar luar sepanjang 920 meter. Bagian dalam terdapat lapangan sepak bola berukuran 105 x 70 meter, berikut lintasan berbentuk elips, dengan sumbu panjang 176,1 meter dan sumbu pendek 124,2 meter.
- 1962 - Gedung TVRI Pusat, stasiun TV pertama di Indonesia selesai dibangun.
Sesudah Asian Games 1962
- 19 April 1965 - Awal pembangunan Kompleks DPR yang bertepatan dengan peringatan satu dasawarsa Konferensi Asia Afrika dan juga sebagai salah satu proyek The New Emerging Forces (lihat: Ganefo).
- 1968 - Lapangan Golf seluas 20 hektar mulai dibangun.
- 1970 - Gedung A dan Gedung B, masing - masing berkapasitas 10.000 penonton selesai dibangun. Kedua gedung ini direncanakan untuk menjadi gedung olahraga serbaguna. Gedung A digunakan untuk mengadakan kompetisi untuk olahraga anggar sedangkan Gedung B digunakan untuk mengadakan kompetisi senam.
- 1970 - Gedung C berkapasitas 800 penonton selesai dibangun. Gedung ini berjasa melahirkan para pe-bulutangkis Indonesia kelas dunia seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto dan Ivana Lie.
Era Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan (YGOS)
Pada era Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan ini, terjadi banyak penyimpangan sehingga kawasan Gelora Bung Karno yang semula luasnya 279,1 hektare ini telah menyusut hingga tinggal 136,84 hektare (49%) saja.
Dari jumlah yang 51% itu, 67,52 hektare (24,2% dari luas semula) digunakan untuk berbagai bangunan pemerintah seperti Gedung MPR/DPR, Kantor Departemen Kehutanan, Kantor Departemen Pendidikan Nasional, Gedung TVRI, Graha Pemuda, kantor Kelurahan Gelora, SMU Negeri 24, Puskesmas, gudang Depdiknas dan rumah makan.
Sisanya yang 26,7% atau 74,74 hektare disewakan atau dijual untuk berbagai bangunan seperti misalnya kepada Hotel Hilton, kompleks perdagangan Ratu Plaza, Hotel Mulia, Hotel Atlet Century Park (dahulu Wisma Atlet Senayan), Taman Ria Remaja Senayan, Wisma Fairbanks, Plaza Senayan dan berbagai bangunan komersial lainnya.
Era Badan Pengelola Gelora Bung Karno (BPGBK)
Pada masa BPGBK ini dua buah bangunan di kompleks Stadion Gelora Bung Karno akan dirubuhkan. Kedua bangunan tersebut adalah Wisma Fairbanks dan Gedung Serba Guna di belakang hotel Century. Semula Wisma Fairbanks diharapkan akan memberikan keuntungan kepada pihak BPGBK, setelah perjanjian pembangunan dan penguasaan wisma tersebut selama 30 tahun berakhir. Setelah dikembalikan, menurut pihak BPGBK bangunan itu tidak lagi memenuhi syarat huni. Menurut rencana, sebagai gantinya akan dibangun sebuah apartemen dan perkantoran, dengan 200 kamar yang akan disediakan untuk atlet.
Pada era Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan ini, terjadi banyak penyimpangan sehingga kawasan Gelora Bung Karno yang semula luasnya 279,1 hektare ini telah menyusut hingga tinggal 136,84 hektare (49%) saja.
Dari jumlah yang 51% itu, 67,52 hektare (24,2% dari luas semula) digunakan untuk berbagai bangunan pemerintah seperti Gedung MPR/DPR, Kantor Departemen Kehutanan, Kantor Departemen Pendidikan Nasional, Gedung TVRI, Graha Pemuda, kantor Kelurahan Gelora, SMU Negeri 24, Puskesmas, gudang Depdiknas dan rumah makan.
Sisanya yang 26,7% atau 74,74 hektare disewakan atau dijual untuk berbagai bangunan seperti misalnya kepada Hotel Hilton, kompleks perdagangan Ratu Plaza, Hotel Mulia, Hotel Atlet Century Park (dahulu Wisma Atlet Senayan), Taman Ria Remaja Senayan, Wisma Fairbanks, Plaza Senayan dan berbagai bangunan komersial lainnya.
Era Badan Pengelola Gelora Bung Karno (BPGBK)
Pada masa BPGBK ini dua buah bangunan di kompleks Stadion Gelora Bung Karno akan dirubuhkan. Kedua bangunan tersebut adalah Wisma Fairbanks dan Gedung Serba Guna di belakang hotel Century. Semula Wisma Fairbanks diharapkan akan memberikan keuntungan kepada pihak BPGBK, setelah perjanjian pembangunan dan penguasaan wisma tersebut selama 30 tahun berakhir. Setelah dikembalikan, menurut pihak BPGBK bangunan itu tidak lagi memenuhi syarat huni. Menurut rencana, sebagai gantinya akan dibangun sebuah apartemen dan perkantoran, dengan 200 kamar yang akan disediakan untuk atlet.
Gereja Immanuel
Gereja Immanuel awalnya adalah gereja yang dibangun atas dasar kesepakatan antara umat Reformasi dan Umat Lutheran di Batavia.
Pembangunannya dimulai tahun 1834 dengan mengikuti hasil rancangan J.H. Horst. Pada 24 Agustus 1835, batu pertama diletakkan. Empat tahun kemudian, 24 Agustus 1839, pembangunan berhasil diselesaikan.
Bersamaan dengan itu gedung ini diresmikan menjadi gereja untuk menghormati Raja Willem I, raja Belanda pada periode 1813-1840. Pada gedung gereja dicantumkan nama WILLEMSKERK.
Gereja bergaya klasisisme itu bercorak bundar di atas fondasi tiga meter. Bagian depan menghadap Stasiun Gambir. Di bagian ini terlihat jelas serambi persegi empat dengan pilar-pilar paladian yang menopang balok mendatar. Paladinisme adalah gaya klasisisme abad ke-18 di Inggris yang menekan simetri dan perbandingan harmonis.
Serambi-serambi di bagian utara dan selatan mengikuti bentuk bundar gereja dengan membentuk dua bundaran konsentrik, yang mengelilingi ruang ibadah. Lewat konstruksi kubah yang cermat, sinar matahari dapat menerangi seluruh ruangan dengan merata. Menara bundar atau lantern yang pendek di atas kubah dihiasi plesteran bunga teratai dengan enam helai daun, simbol Mesir untuk dewi cahaya.
Orgel yang dipakai berangka tahun 1843, hasil buatan J. Datz di negeri Belanda. Sebelum organ terpasang, sebuah band tampil sebagai pengiring perayaan ibadah. Pada 1985, orgel ini dibongkar dan dibersihkan sehingga sampai kini dapat berfungsi dengan baik.
Suku dan
Budaya Betawi
Suku Betawi
Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa.
Gambang keromong
Gambang keromong (sering pula ditulis gambang kromong) adalah sejenis orkes yang memadukan gamelan dengan alat musik umum. Sebutan gambang keromong diambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan keromong. Awal mula terbentuknya orkes gambang keromong tidak lepas dari seorang pimpinan golongan Tionghoa yang bernama Nie Hu-kong.
Bilahan gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Keromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh pencon). Tangga nada yang digunakan dalam gambang keromong adalah tangga nada pentatonik Cina. Instrumen pada gambang keromong terdiri atas gong, gendang, suling, bonang, kecrek, dan rebab atau biola sebagai pembawa melodi.
Orkes gambang keromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur Tionghoa. Secara fisik unsur Tionghoa tampak pada alat-alat musik gesek yaitu Tehyan, Kongahyan dan Sukong. Perpaduan kedua unsur kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendarahaan lagu-lagunya. Di samping lagu-lagu yang menunjukan sifat pribumi seperti Jali-jali, Surilang, Persi, Balo-balo, Lenggang-lenggang Kangkung, Onde-onde, Gelatik Ngunguk dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Tionghoa, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya seperti Kong Jilok, Sipatmo, Phe Pantaw, Citnosa, Macuntay, Gutaypan, dan sebagainya.
Lagu-lagu yang dibawakan pada musik gambang keromong adalah lagu-lagu yang isinya bersifat humor, penuh gembira, dan kadangkala bersifat ejekan atau sindiran. Pembawaan lagunya dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan perempuan sebagai lawannya.
Gambang keromong merupakan musik Betawi yang paling merata penyebarannya di wilayah budaya Betawi, baik di wilayah DKI Jakarta sendiri maupun di daerah sekitarnya. Jika lebih banyak penduduk Tionghoa dalam masyarakat Betawi setempat, lebih banyak pula terdapat grup-grup orkes gambang keromong. Di Jakarta Utara dan Jakarta Barat misalnya, lebih banyak jumlah grup gambang keromong dibandingkan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
Dewasa ini juga terdapat istilah "gambang keromong kombinasi". Gambang keromong kombinasi adalah orkes gambang keromong yang alat-alatnya ditambah atau dikombinasikan dengan alat-alat musik Barat modern seperti gitar melodis, bas, gitar, organ, saksofon, drum dan sebagainya, yang mengakibatkan terjadinya perubahan dari laras pentatonik menjadi diatonik tanpa terasa mengganggu. Hal tersebut tidak mengurangi kekhasan suara gambang keromong sendiri, dan lagu-lagu yang dimainkan berlangsung secara wajar dan tidak dipaksakan.
Tanjidor
Tanjidor adalah sebuah kesenian Betawi yang berbentuk orkes. Kesenian ini sudah
dimulai sejak abad ke-19. Alat-alat musik yang digunakan biasanya terdiri dari
penggabungan alat-alat musik tiup, alat-alat musik gesek dan alat-alat musik
perkusi. Biasanya kesenian ini digunakan untuk mengantar pengantin atau dalam
acara pawai daerah. Tapi pada umumnya kesenian ini diadakan di suatu tempat
yang akan dihadiri oleh masyarakat Betawi secara luas layaknya sebuah orkes.
Kesenian Tanjidor juga terdapat di Kalimantan Barat, sementara di Kalimantan
Selatan sudah punah.
Ondel-ondel
Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan
dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek
moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.
Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalarnnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki di cat dengan warna merah, sedang yang perempuan dicat dengan warna putih. Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang terdapat di beberapa daerah lain.
Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa.
Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misainya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel ternyata masih tetap bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.
Ondel-ondel
Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan
dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek
moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalarnnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki di cat dengan warna merah, sedang yang perempuan dicat dengan warna putih. Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang terdapat di beberapa daerah lain.
Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa.
Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misainya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel ternyata masih tetap bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.
Tempat-tempat Terkenal di Jakarta
Glodok
Glodok adalah salah satu bagian dari kota lama Jakarta. Sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, daerah ini juga dikenal sebagai Pecinan -- bahkan yang terbesar di Indonesia -- karena mayoritas pedagang di Glodok merupakan masyarakat keturunan Tionghoa.
Di masa kini Glodok dikenal sebagai salah satu sentra penjualan elektronik di Jakarta, Indonesia.
Secara administratif, daerah ini termasuk dalam wilayah kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.
Kata Glodok berasal dari Bahasa Sunda "Golodog". Golodog berarti pintu masuk rumah, karena Sunda Kalapa(Jakarta) merupakan pintu masuk ke kerajaan Sunda. Karena sebelum dikuasai Belanda yang membawa para pekerja dari berbagai daerah dan menjadi Betawi atau Batavia, Sunda Kelapa dihuni oleh orang Sunda. Perubahan 'G' jadi 'K' di belakang sering ditemukan pada kata-kata Sunda yg dieja oleh orang non-Sunda, terutama suku Jawa dan Melayu yang kemudian banyak menghuni Jakarta. Sampai saat ini di Jakarta masih banyak ditemui nama daerah yang berasal dari Bahasa Sunda meski dengan ejaan yang telah sedikit berubah.
Nama Glodok juga berasal dari suara air pancuran dari sebuah gedung kecil persegi delapan di tengah-tengah halaman gedung Balai Kota (Stadhuis) – pusat pemerintahan Kumpeni Belanda di kota Batavia. Gedung persegi delapan ini, dibangun sekitar tahun 1743 dan sempat dirubuhkan sebelum dibangun kembali tahun 1972, banyak membantu serdadu Kumpeni Belanda karena di situlah mengalir air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Tak cuma bagi serdadu Kumpeni Belanda tapi juga dimanfaatkan minum bagi kuda-kuda serdadu usai mengadakan perjalanan jauh. Bunyi air pancurannya grojok..grojok..grojok. Sehingga kemudian bunyi yang bersumber dari gedung kecil persegi delapan itu dieja penduduk pribumi sebagai Glodok.[1]
Dari nama ”pancuran” akhirnya menjadi nama sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Pancoran atau orang di kawasan Jakarta Kota menyebutnya dengan istilah ”Glodok Pancoran”. Hingga kini kedua nama yakni Glodok dan Glodok Pancoran masih akrab di telinga orang Jakarta, bahkan hingga ke luar Jakarta.
Sunda Kelapa
Sunda Kelapa adalah nama sebuah pelabuhan dan tempat sekitarnya di Jakarta, Indonesia. Pelabuhan ini terletak di kelurahan Penjaringan, kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Meskipun sekarang Sunda Kelapa hanyalah nama salah satu pelabuhan di Jakarta,
daerah ini sangat penting karena desa di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa adalah
cikal-bakal kota Jakarta yang hari jadinya ditetapkan pada tanggal 22 Juni
1527. Kala itu Sunda Kelapa milik Kerajaan Sunda yang beribukota di Pakuan
Pajajaran atau Pajajaran (sekarang kota Bogor) yang direbut oleh pasukan Demak
dan Cirebon. Walaupun hari jadi kota Jakarta baru ditetapkan pada abad ke-16,
sejarah Sunda Kelapa sudah dimulai jauh lebih awal, yaitu pada zaman pendahulu
Kerajaan Sunda, yaitu kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Tarumanagara pernah
diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena
itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kelapa menggunakan bahasa
Malayu yang umum di Sumatera, yang kemudian dijadikan bahasa nasional, jauh
sebelum peristiwa Sumpah Pemuda.
Pelabuhan Sunda Kelapa telah dikenal semenjak abad ke-12 dan kala itu merupakan pelabuhan terpenting Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran. Kemudian pada masa masuknya Islam dan para penjelajah Eropa, Sunda Kelapa diperebutkan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa. Akhirnya Belanda berhasil menguasainya cukup lama sampai lebih dari 300 tahun. Para penakluk ini mengganti nama-nama pelabuhan Sunda Kelapa dan daerah sekitarnya. Namun pada awal tahun 1970-an, nama kuno "Sunda Kelapa" kembali digunakan sebagai nama resmi pelabuhan tua ini.
Pelabuhan Sunda Kelapa telah dikenal semenjak abad ke-12 dan kala itu merupakan pelabuhan terpenting Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran. Kemudian pada masa masuknya Islam dan para penjelajah Eropa, Sunda Kelapa diperebutkan antara kerajaan-kerajaan Nusantara dan Eropa. Akhirnya Belanda berhasil menguasainya cukup lama sampai lebih dari 300 tahun. Para penakluk ini mengganti nama-nama pelabuhan Sunda Kelapa dan daerah sekitarnya. Namun pada awal tahun 1970-an, nama kuno "Sunda Kelapa" kembali digunakan sebagai nama resmi pelabuhan tua ini.
Helicak
Helicak adalah kendaraan angkutan masyarakat yang banyak ditemukan di Jakarta pada tahun 1970-an. Nama helicak berasal dari gabungan kata helikopter dan becak, karena bentuknya memang mirip dengan helikopter dan becak.
Helicak pertama kali diluncurkan pada 24 Maret 1971. Mesin dan bodi utama kendaraan ini adalah skuter Lambretta yang didatangkan dari Italia. Kendaraan ini pertama kali dicetuskan di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin sebagai pengganti becak yang dianggap tidak manusiawi.
Seperti halnya becak, pengemudi helicak duduk di belakang, sementara penumpangnya duduk di depan dalam sebuah kabin dengan kerangka besi dan dinding dari serat kaca sehingga terlindung dari panas, hujan ataupun debu, sementara pengemudinya tidak. Sebagian orang menilai kendaraan ini tidak aman bagi penumpang, karena bila terjadi tabrakan, si penumpanglah yang pertama kali akan merasakan akibatnya.
Umur helicak ternyata tidak panjang. Kebijakan pemerintah DKI Jakarta dalam menyediakan angkutan rakyat yang tidak konsisten menyebabkan helicak yang jumlahnya 400 buah pada saat pertama kali diluncurkan, tidak dikembangkan lebih lanjut. Akibatnya helicak pelan-pelan menghilang dari jalan-jalan di ibukota.
Helicak pertama kali diluncurkan pada 24 Maret 1971. Mesin dan bodi utama kendaraan ini adalah skuter Lambretta yang didatangkan dari Italia. Kendaraan ini pertama kali dicetuskan di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin sebagai pengganti becak yang dianggap tidak manusiawi.
Seperti halnya becak, pengemudi helicak duduk di belakang, sementara penumpangnya duduk di depan dalam sebuah kabin dengan kerangka besi dan dinding dari serat kaca sehingga terlindung dari panas, hujan ataupun debu, sementara pengemudinya tidak. Sebagian orang menilai kendaraan ini tidak aman bagi penumpang, karena bila terjadi tabrakan, si penumpanglah yang pertama kali akan merasakan akibatnya.
Umur helicak ternyata tidak panjang. Kebijakan pemerintah DKI Jakarta dalam menyediakan angkutan rakyat yang tidak konsisten menyebabkan helicak yang jumlahnya 400 buah pada saat pertama kali diluncurkan, tidak dikembangkan lebih lanjut. Akibatnya helicak pelan-pelan menghilang dari jalan-jalan di ibukota.
Weltevreden
Weltevreden (bahasa Belanda yang berarti dalam suasana tenang dan puas) adalah daerah tempat tinggal utama orang-orang Eropa di pinggiran Batavia, Hindia-Belanda yang berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Batavia lama ke arah selatan. Letaknya kini di sekitar Gambir, Jakarta Pusat yang membentang dari RSPAD Gatot Subroto hingga Museum Gajah. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Weltevreden merujuk kepada hampir seluruh daerah Jakarta Pusat sekarang.
Pada tahun 1648 pemerintah koloni VOC memberikan sebidang tanah kepada Anthonij Paviljoun. Kemudian Paviljoun mengembangkan rumah-rumah peristirahatan kecil yang dinamainya Weltevreden.
Pemilik tanah Paviljoun berikutnya adalah Cornelis Chastelein, seorang anggota Dewan Hindia (1693). Ia termasuk orang pertama di Indonesia yang berusaha mengembangkan sebuah perkebunan kopi di tengah-tengah kota Jakarta saat ini dengan memanfaatkan budak-budak yang diambilnya dari Bali. Pada 1733, Justinus Vinck membeli sebagian tanah Weltevreden dan membuka dua pasar besar, yakni Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang. Pada tahun 1735, ia menghubungkan kedua pasar tersebut dengan sebuah jalan, yang sekarang disebut Jl. Prapatan dan Jl. Kebon Sirih yang juga merupakan jalur penghubung timur-barat pertama di Jakarta Pusat kini.
Pemilik berikutnya, Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1704-1761), membangun rumah mewah di tikungan Ciliwung. Mossel juga menggali Kali Lio untuk memudahkan sekoci kecil mengangkut kebutuhan pasar. Pada 1767, rumah Weltevreden dibeli Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra. Tanah itu kemudian dijual kembali pada Gubernur Jenderal VOC terakhir, Pieter Gerardus van Overstraten. Sejak masa itu, Weltevreden menjadi kedudukan resmi gubernur jenderal dan pemerintahannya.
Pada tahun 1809 Gubernur Jendral Herman Willem Daendels mendirikan Paleis van Daendels atau disebut juga Het Groote Huis. Istana ini dirancang Kolonel J.C.Schultze, namun bangunan ini baru dapat diselesaikan pada 1826 dan 1828 oleh insinyur Tromp atas perintah Pejabat Gubernur Jenderal Du Bus de Ghisignies. Istana yang besar dan megah itu ditempati oleh Departemen Keuangan Hindia Belanda sampai masa pendudukan Jepang, sebelum akhirnya menjadi kantor Departemen Keuangan Republik Indonesia.
Untuk latihan militernya, Daendels mengalokasikan lapangan Buffelsveld (lapangan kerbau) yang kini menjadi Lapangan Monumen Nasional. Lapangan itu juga biasa disebut Champs de Mars. Sesudah masa kuasa sementara Inggris (1818), lapangan itu diberi nama baru lagi, yakni Koningsplein (lapangan raja). Lapangan itu dikelilingi oleh Museum Gajah, Istana Merdeka, serta Stasiun Weltevreden (sekarang Stasiun Gambir). Pada tahun 1821 didirikan di Theater Schouwburg Weltevreden, yang sekarang disebut Gedung Kesenian Jakarta.
Pada tahun 1937, pemerintah kolonial mengesahkan sebuah rencana induk kota Batavia dengan Koningsplein (Lapangan Monas) sebagai pusatnya. Rencana induk itu sendiri merupakan tindak lanjut dari dikukuhkannya Undang-Undang Desentralisasi tahun 1903 dan berbagai ordonansi tentang kewenangan lokal dalam pengaturan kota. Berbagai prasarana kota dalam skala makro pun mulai digarap. Saluran pengendali banjir (banjir kanal) mulai dibangun dari Karet-Tanah Abang terus ke laut. Pembangunan Banjir Kanal telah direncanakan sejak 1870, tidak lama setelah Batavia dilanda banjir besar dan baru selesai pada tahun 1920. Sementara itu, rel kereta api juga mulai dikembangkan. Dimulai dengan jalur tengah dan timur, kemudian ditambah jalur barat melalui Manggarai - Tanah Abang - Duri - Kota.
Weltevreden (bahasa Belanda yang berarti dalam suasana tenang dan puas) adalah daerah tempat tinggal utama orang-orang Eropa di pinggiran Batavia, Hindia-Belanda yang berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Batavia lama ke arah selatan. Letaknya kini di sekitar Gambir, Jakarta Pusat yang membentang dari RSPAD Gatot Subroto hingga Museum Gajah. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Weltevreden merujuk kepada hampir seluruh daerah Jakarta Pusat sekarang.
Pada tahun 1648 pemerintah koloni VOC memberikan sebidang tanah kepada Anthonij Paviljoun. Kemudian Paviljoun mengembangkan rumah-rumah peristirahatan kecil yang dinamainya Weltevreden.
Pemilik tanah Paviljoun berikutnya adalah Cornelis Chastelein, seorang anggota Dewan Hindia (1693). Ia termasuk orang pertama di Indonesia yang berusaha mengembangkan sebuah perkebunan kopi di tengah-tengah kota Jakarta saat ini dengan memanfaatkan budak-budak yang diambilnya dari Bali. Pada 1733, Justinus Vinck membeli sebagian tanah Weltevreden dan membuka dua pasar besar, yakni Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang. Pada tahun 1735, ia menghubungkan kedua pasar tersebut dengan sebuah jalan, yang sekarang disebut Jl. Prapatan dan Jl. Kebon Sirih yang juga merupakan jalur penghubung timur-barat pertama di Jakarta Pusat kini.
Pemilik berikutnya, Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1704-1761), membangun rumah mewah di tikungan Ciliwung. Mossel juga menggali Kali Lio untuk memudahkan sekoci kecil mengangkut kebutuhan pasar. Pada 1767, rumah Weltevreden dibeli Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra. Tanah itu kemudian dijual kembali pada Gubernur Jenderal VOC terakhir, Pieter Gerardus van Overstraten. Sejak masa itu, Weltevreden menjadi kedudukan resmi gubernur jenderal dan pemerintahannya.
Pada tahun 1809 Gubernur Jendral Herman Willem Daendels mendirikan Paleis van Daendels atau disebut juga Het Groote Huis. Istana ini dirancang Kolonel J.C.Schultze, namun bangunan ini baru dapat diselesaikan pada 1826 dan 1828 oleh insinyur Tromp atas perintah Pejabat Gubernur Jenderal Du Bus de Ghisignies. Istana yang besar dan megah itu ditempati oleh Departemen Keuangan Hindia Belanda sampai masa pendudukan Jepang, sebelum akhirnya menjadi kantor Departemen Keuangan Republik Indonesia.
Untuk latihan militernya, Daendels mengalokasikan lapangan Buffelsveld (lapangan kerbau) yang kini menjadi Lapangan Monumen Nasional. Lapangan itu juga biasa disebut Champs de Mars. Sesudah masa kuasa sementara Inggris (1818), lapangan itu diberi nama baru lagi, yakni Koningsplein (lapangan raja). Lapangan itu dikelilingi oleh Museum Gajah, Istana Merdeka, serta Stasiun Weltevreden (sekarang Stasiun Gambir). Pada tahun 1821 didirikan di Theater Schouwburg Weltevreden, yang sekarang disebut Gedung Kesenian Jakarta.
Pada tahun 1937, pemerintah kolonial mengesahkan sebuah rencana induk kota Batavia dengan Koningsplein (Lapangan Monas) sebagai pusatnya. Rencana induk itu sendiri merupakan tindak lanjut dari dikukuhkannya Undang-Undang Desentralisasi tahun 1903 dan berbagai ordonansi tentang kewenangan lokal dalam pengaturan kota. Berbagai prasarana kota dalam skala makro pun mulai digarap. Saluran pengendali banjir (banjir kanal) mulai dibangun dari Karet-Tanah Abang terus ke laut. Pembangunan Banjir Kanal telah direncanakan sejak 1870, tidak lama setelah Batavia dilanda banjir besar dan baru selesai pada tahun 1920. Sementara itu, rel kereta api juga mulai dikembangkan. Dimulai dengan jalur tengah dan timur, kemudian ditambah jalur barat melalui Manggarai - Tanah Abang - Duri - Kota.
Source:
author: dhychriez
Subscribe to:
Posts (Atom)










